Breaking News! Kuliah Umum dan Diseminasi Buku KKP 4.0 di Mataram
Berita ISEI

Konferensi Internasional FAEA ke-46 di Yogyakarta

20 November 2023

Memperkuat Kolaborasi dalam Mewujudkan Perekonomian ASEAN yang Berkelanjutan

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menyelenggarakan Konferensi Internasional ke-46 FAEA yang diselenggarakan pada 17-18 November 2023 mengusung tema ”Empowering Collaboration to Shape ASEAN Economic Sustainability”. Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat, 17 November 2023 bertempat di The Alana Hotel and Convention Center, Yogyakarta dan dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta yang terdiri dari delegasi anggota FAEA (Malaysia, Filipina, Vietnam, Singapura, Thailand, dan Kamboja), akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. 

Ketua Umum ISEI sekaligus Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo PhD., memberikan Keynote Speech dengan menekankan bahwa dalam mewujudkan perekonomian ASEAN yang berkelanjutan, terdapat 2 (dua) hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu (i) memitigasi dampak global spillover; dan (ii) sinergi dan kolaborasi untuk mengatasi global spillover tersebut. Perekonomian global saat ini mengalami tantangan fragmentasi dan divergensi ekonomi yang disebabkan ketegangan geopolitik, ketidakpastian yang semakin meningkat, serta isu perubahan iklim. Tantangan tersebut perlu disikapi dengan bijak melalui pendekatan-pendekatan yang bersifat kolaboratif dan kooperatif melalui sinergi, khususnya pada regional ASEAN. Selanjutnya, Indonesia pada Keketuaan ASEAN pada tahun 2023 telah berhasil menghasilkan berbagai kesepakatan dalam mewujudkan ASEAN sebagai epicentre of growth, salah satunya pada financial track commitment. Kesepakatan tersebut diwujudkan berdasarkan 3 (tiga) strategic thrust, yaitu: recovery-rebuilding, digital economy, dan sustainability.

Sejalan dengan hal tersebut, terdapat 5 (lima) langkah strategis yang dapat dilakukan dalam menghadapi tantangan ke depan , yaitu:

  1. perlunya mengadopsi bauran kebijakan antara fiskal dan moneter;
  2. intgerasi keuangan ASEAN;
  3. percepatan implementasi digitalisasi keuangan di tingkat regional;
  4. percepatan transaksi global melalui mekanisme Local Currency Transaction (LCT), serta;
  5. mendorong inklusi keuangan, utamanya pada UMKM. 

Selanjutnya, Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011-2014) memaparkan bahwa tantangan global yang semakin kompleks ke depannya, tidak hanya berdampak ke masing-masing negara saja tapi juga pada kawasan. Berdasarkan observasi yang dilakukan, terdapat 3 (tiga) hal yang disampaikan oleh beliau untuk meningkatkan optimisme pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, yaitu:

  1. percepatan pertumbuhan ekonomi dari sisi fiskal;
  2. kebijakan moneter yang optimal melalui suku bunga, serta;
  3. mendorong investasi yang berkelanjutan.

Ketua Panitia, Muhammad Edhie Purnawan PhD, memberikan sambutan pada Konferensi Internasional FAEA ke-46, di mana kegiatan ini mengusung tema tema ”Empowering Collaboration to Shape ASEAN Economic Sustainability” menjadi relevan dengan permasalahan yang dihadapi oleh negara-negara anggota ASEAN. Sebagai tindak lanjut, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya bersama-sama para ekonom ASEAN untuk meminimalisir dampak perlambatan ekonomi ke depan, sehingga terwujud perekonomian yang berkelanjutan.

Adapun pembicara seminar yaitu: (i) Prof. Dwikorita Karnawati (Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), (ii) Pahala Nugraha Mansury (Wakil Menteri Kementerian Luar Negeri RI); (iii) Amri Bukhairi B. (Asisten Direktur Sekretariat ASEAN), dan; (iv) Dennis Botman (Senior Resident Representative IMF). Seminar dimoderatori oleh Dinna Prapto Raharja PhD (Binus University). Secara ringkas poin-poin yang disampaikan sebagai berikut: (i) tantangan iklim seperti El Nino yang terjadi di South East Asia & West Pacific terhadap Ketahanan Pangan; (ii) upaya kolaborasi pada 17 Goals SDGs untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; (iii) stabilitas pertumbuhan ekonomi di ASEAN kini dan ke depan, serta; (iv) fenomena perlambatan pertumbuhan ekonomi ASEAN sejalan dengan perlambatan ekonomi China, sehingga potensi apa yang perlu diperhatikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.

Pada sesi Call for Paper, terdapat 6 (enam) sesi paralel dengan total paper yang dipresentasikan sebanyak 35 paper terpilih dari 120 paper yang di-submit dari berbagai negara di ASEAN. Adapun topik pada sesi paralel tersebut yaitu: (i) Trade and Foreign Investment yang dipimpin oleh Economic Society of Thailand; (ii) Economic Growth, Energy Efficiency, and Sustainability oleh Philippines Economic Society; (iii) Demography, Syariah Economy, and SDGs oleh Cambodia Economic Association; (iv) Business Cycle, Industry and Labor oleh Malaysian Economic Association; (v) Green Economy and ESG oleh Economic Society of Singapore, serta; (vi) Monetary, Banking, and Digitalization oleh Vietnam Economic Association.

Rangkaian kegiatan sesi sore hari yang dilanjutkan dengan Gala Dinner dibuka dengan penampilan oleh Nawung Kerto yang membawakan tarian ”The Story of Mahabharata”. Hal ini tentunya disambut antusias oleh para delegasi dan peserta yang menghadiri kegiatan pada sesi sore. dilakukan penyampaian Deklarasi Yogyakarta oleh Ketua Panitia yang merupakan komitmen dari 7 (tujuh) anggota FAEA, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. 

Penyampaian Deklarasi Yogyakarta tersebut turut mengumumkan penyelenggaraan FAEA ke-47 akan dilaksanakan di Bangkok, Thailand pada tahun 2024. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian plakat masing-masing anggota FAEA. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, sinergi dan kolaborasi terus terjalin dalam rangka mewujudukan perekonomian ASEAN yang berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan Konferensi Internasional FAEA ke-46 ditutup dengan closing remarks oleh Sekretaris Umum PP ISEI, Yoga Affandi PhD, yang menyampaikan bahwa dalam menghadapi tantangan global, para negara anggota ASEAN dapat bersama-sama memitigasi dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi melalui penguatan resiliensi perekonomian, identifikasi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan peningkatan kerjasama internasional.