Proteksionisme Trump 2.0 melalui penerapan reciprocal tariff dan tarif berlapis merupakan respons atas ketidakseimbangan perdagangan (reciprocity asymmetry), namun justru memicu eskalasi perang dagang, fragmentasi sistem WTO, dan ketidakpastian rantai pasok global.
Hasil analisis menunjukan bahwa reciprocal tariff berpotensi menyebabkan pelemahan nilai tukar Rupiah (REER), kontraksi ekspor sawit, udang, tekstil, dan alas kaki, serta risiko stagnasi pertumbuhan PDB ke 4,77 persen.
Skenario proteksionisme murni (skenario 1) berpotensi menurunkan kesejahteraan, ekspor,neraca pembayaran, dan ekspor komoditas andalan Indonesia. Skenario diversifikasi negara tujuan ekspor melalui BRICS (skenario 2) berpotensi menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5,04 persen, meningkatkan investasi dan ekspor, meski menimbulkan defisit eksternal dan inflasi lebih tinggi.
Analisis connectedness nilai tukar menunjukkan bahwa mata uang Rupiah berperan sebagai net receiver, sangat dipengaruhi dinamika mata uang global (USD, Euro, Yuan, Yen), dengan outward spillover terbatas akibat keterbatasan integrasi keuangan internasional.
Strategi kebijakan Indonesia harus adaptif, meliputi pemanfaatan BRICS secara optimal, penguatan negosiasi NTMs, perlindungan komoditas sensitif terutama pangan, integrasi sektor jasa dalam perundingan, diversifikasi pasar ekspor non-tradisional lainnya, serta penguatan ketahanan nilai tukar melalui LCS, preferensi dagang, efisiensi logistik, dan early warning system berbasis connectedness.