Breaking News! ISEI Dorong Ekonomi Syariah sebagai Pilar Transformasi Nasional melalui Talkshow dan Halal Bihalal 2026
Jurnal Ekonomi Indonesia
Paper ilmiah di bidang ekonomi moneter, keuangan, perbankan, regulasi makroprudensial, sistem pembayaran, ekonomi internasional, ekonomi pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi.
Warta ISEI

Dinamika Mikro (Warta ISEI Vol.3 No.1)

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas terbitnya Warta ISEI Vol.3 No. 1 Tahun 2026 yang pada edisi kali ini mengangkat tema Dinamika Mikro. Tema ini dipilih sebagai refleksi atas pentingnya melihat lebih dalam realitas ekonomi Indonesia: tidak hanya dari permukaan indikator makro, tetapi juga dari struktur mikro yang menjadi “denyut nadi” sesungguhnya dari perekonomian nasional. Pada tahun 1972, seorang ilmuwan politik Amerika Serikat dan Profesor Emeritus di Florida State University memberikan “Public policy is whatever goverments choose to do or not to do.”Dalam menerjemahkan isu kebijakan, definisi ini menjadi sangat relevan karena menunjukkan bahwa kebijakan publik mencakup berbagai spektrum persoalan baik yang ringan hingga berat: serta pada aras mikro (kecil), meso (menengah), dan makro (besar dan luas). Hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menentukan skala prioritas, menetapkan ruang lingkup sudut pandang dalam pengambilan keputusan, dan yang terpenting memastikan adanya political will yang kuat. “Kebijakan dengan niat baik saja tidaklah cukup, kebijakan harus dilengkapi dengan tata kelola yang baik”. 

Inilah yang membedakan antara Pemerintah dan Penguasa, dimana Pemerintah mengikuti kaidah dalam melaksanakan tanggung jawab sedangkan Penguasa hanya menggunakan “Hukum Rimba” untuk mengikuti apa yang dinilai benar. Tata kelola yang baik (Good Governance) adalah tools agar kebijakan mampu memberikan dampak yang nyata, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Tanpa tata kelola yang baik, kebijakan berpotensi hanya menjadi narasi normatif tanpa implementasi yang efektif di lapangan. Sebagai pengantar konseptual, perbedaan antara pendekatan mikro dan makro juga dapat dilihat dalam kerangka bahasa bayi. Pendekatan mikroprudensial berfokus pada ketahanan institusi secara individual menjawab pertanyaan “Apakah pohon ini tumbuh subur dan dirawat dengan baik?”, sementara pendekatan makroprudensial menitikberatkan pada stabilitas sistem secara keseluruhan “Apakah hutan ini memiliki SOP saat terjadi krisis dan siapa saja yang menanganinya?”. Analogi ini relevan dalam membaca ekonomi Indonesia, di mana stabilitas agregat tidak selalu mencerminkan kondisi unit-unit ekonomi.

di tingkat bawah dan pentingnya mendorong pertumbuhan bagi unit-unit ekonomi di tingkat bawah. Di sisi lain, hingga saat ini Pemerintah masih dihadapkan pada pertanyaan mendasar: “Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung terus menurun dan stagnan di kisaran 5 persen?”. Salah satu refleksi yang perlu dikemukakan adalah bahwa kerangka berpikir ekonomi yang digunakan selama ini banyak bertumpu pada textbook ekonomi ala Barat, yang dibangun dalam konteks negara-negara kontinental. Dalam konteks tersebut, tidak mengherankan apabila negara seperti Tiongkok mampu mengadopsi dan menduplikasi pendekatan tersebut dengan relatif berhasil karena berorientasi pada stabilitas makro. Namun demikian, Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda sebagai negara kepulauan dengan keragaman geografis, sosial, dan ekonomi yang sangat kompleks dan perlu dikelola berdasarkan pendekatan mikro yang biasanya lebih partisipatif. Oleh karena itu, menjadi pertanyaan penting: apakah pendekatan yang tertuang dalam textbook saat ini sepenuhnya relevan dengan kebutuhan dan realitas Indonesia? Pertanyaan ini menegaskan pentingnya ruang reflektif untuk meninjau kembali fondasi pemikiran ekonomi yang kita gunakan. Dalam konteks ini, menggali kembali amanat Pasal 33 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai warisan para founding fathers menjadi semakin relevan. Pasal tersebut tidak hanya memuat prinsip dasar perekonomian nasional, tetapi juga mencerminkan nilai, falsafah, dan jati diri bangsa Indonesia. Dengan demikian, pembangunan ekonomi ke depan perlu diarahkan agar tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada keadilan, kemandirian, dan keberlanjutan yang lebih partisipatif. Terkadang, dalam upaya merumuskan kebijakan, kita banyak belajar dari keberhasilan negara-negara Barat, Tiongkok, Vietnam, dan berbagai negara lain sebagai bagian dari pencarian global best practices. Pendekatan ini penting, namun tidak boleh membuat kita kehilangan pijakan pada konteks domestik. Indonesia memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban yang sangat agung. Bahkan, meskipun belum sepenuhnya terkonfirmasi secara akademis, terdapat pandangan dari sebagian ahli yang mengaitkan kawasan Indonesia dengan konsep Sundaland (Atlantis) yang sering diasosiasikan dengan peradaban besar yang hilang ribuan tahun lalu. Narasi tersebut, terlepas dari perdebatan ilmiahnya, memberikan pesan reflektif bahwa Indonesia memiliki potensi dan identitas peradaban yang besar. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi tidak seharusnya hanya berorientasi pada peniruan model eksternal, tetapi juga pada penggalian kekuatan internal bangsa. Dengan kata lain, praktik terbaik global perlu di “adaptasi” bukan sekadar di “adopsi” agar selaras dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang unik. Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, kinerja makroekonomi Indonesia menunjukkan capaian yang patut diapresiasi. Namun di balik capaian tersebut, terdapat dinamika mikro yang memerlukan perhatian lebih serius. Struktur ketenagakerjaan Indonesia masih di dominasi oleh sektor informal, tingginya proporsi pekerja tidak penuh waktu, serta keberadaan pekerja keluarga yang tidak dibayar menjadi indikasi bahwa kualitas pekerjaan belum sepenuhnya membaik. Selain itu fenomena pengangguran terdidik juga menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara output pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Hal ini mencerminkan bahwa tantangan pembangunan ke depan tidak hanya terletak pada pencapaian angka makro, tetapi juga pada dinamika mikro di tingkat individu dan rumah tangga. Melalui tema “Dinamika Mikro”, Warta ISEI berupaya menghadirkan perspektif isei.or.id ISEI Menyapa yang lebih tajam dalam membaca perekonomian Indonesia. Ibarat sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra, indikator makro merupakan alat navigator yang menunjukkan arah dan kecepatan yang baik, namun kondisi pada bagian bawah kapal yang tidak selalu terlihat menentukan keberlanjutan perjalanan tersebut. Dinamika mikro adalah representasi dari lunas kapal (keel) yang apabila tidak diperhatikan, dapat menghambat bahkan membahayakan arah pembangunan ke depan. Akhir kata, kami berharap edisi ini dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif, memperkaya diskursus kebijakan publik, serta menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Selamat membaca

Jonathan Ersten Herawan
Wakil Redaktur Pelaksana Warta ISEI