Solo, 27 Juni 2026 — Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bekerja sama dengan Bank Indonesia, Universitas Sebelas Maret (UNS), Badan Pusat Statistik (BPS) RI, dan Komsah Group menyelenggarakan Kuliah Umum “Program Ketahanan Pangan Mendukung Asta Cita Pemerintah” di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS, Solo, pada Sabtu, 27 Juni 2026. Kuliah umum ini menjadi forum kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan mahasiswa untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.
Sambutan pembukaan yang semula dijadwalkan oleh Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., Rektor UNS, pada kesempatan ini diwakili oleh Prof. Dr. Irwan Trinugroho, M.Sc., QCRO., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS. Dalam sambutannya, Prof. Irwan menyampaikan bahwa UNS memiliki komitmen kuat dalam pengembangan pertanian terpadu berkelanjutan dan ketahanan pangan. Ia juga menegaskan bahwa UNS terus mengembangkan riset, inovasi, serta laboratorium lapangan di bidang pertanian, pangan, dan keberlanjutan. Menurutnya, tema ketahanan pangan sangat relevan dengan peran perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk agenda zero hunger.

Dalam welcome remarks, Dr. Aviliani, Ketua Bidang Kerja Sama Dalam Negeri PP ISEI, menegaskan bahwa isu pangan diangkat karena persoalan petani masih sangat mendasar, terutama terkait kemiskinan dan rendahnya nilai tambah yang dinikmati petani. Menurutnya, ISEI ingin mencari dan memperkuat model-model keberhasilan di daerah, seperti kelompok tani yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan. Dr. Aviliani juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas lokal agar praktik-praktik baik di suatu daerah dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan demikian, penguatan pangan tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga tentang pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pada sesi selanjutnya, Prof. Dr. Bustanul Arifin sebagai Ketua Focus Group Pertanian dan Kehutanan Bidang IV PP ISEI pada guest lecture pertama, menyampaikan materi mengenai masa depan industri agro-maritim Indonesia. Ia menjelaskan bahwa ketahanan pangan harus dibaca dalam kerangka besar Asta Cita Pemerintah, di mana pangan menjadi isu yang sangat strategis. Prof. Bustanul menegaskan bahwa swasembada bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai kemandirian bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Beliau juga menekankan bahwa sektor pertanian perlu didorong melalui penguatan industri agro-maritim, hilirisasi, dan transformasi struktural agar Indonesia mampu keluar dari jebakan middle income trap dan bergerak menuju negara maju.
Pada sesi berikutnya, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menyampaikan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, Bank Indonesia memandang ketahanan pangan sebagai salah satu fondasi penting bagi stabilitas, bersama dengan ketahanan energi dan ketahanan nasional. Ia menekankan perlunya dukungan teknologi, smart farming, regenerasi petani, dan penguatan kolaborasi lintas lembaga. Beliau juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian, sebagaimana telah dilakukan di sejumlah negara, agar produktivitas pangan meningkat dan sektor pertanian menjadi semakin menarik serta berdaya saing.
Pada sesi akhir guest lecture, Amalia Adininggar Widyasanti, Ph.D., sebagai Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, menyampaikan materi mengenai penguatan ketahanan pangan berbasis data dan statistik. Dalam paparannya, Amalia menegaskan bahwa perumusan kebijakan pangan memerlukan basis data yang kuat agar pemerintah dapat memantau perkembangan, mengidentifikasi kerawanan, dan merancang intervensi yang tepat sasaran. Ia menjelaskan bahwa indikator statistik menunjukkan kondisi ketahanan pangan Indonesia terus membaik, meskipun tantangan masih tetap ada, terutama di beberapa wilayah Indonesia bagian timur. Karena itu, data statistik menjadi instrumen penting dalam menilai efektivitas kebijakan sekaligus menjaga agar agenda ketahanan pangan berjalan lebih terukur dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, Dr. Lukman Hakim, Wakil Ketua Bidang I PP ISEI sekaligus Ketua ISEI Cabang Solo, menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan mitra yang telah mendukung kegiatan ini. Dalam closing remarks-nya, Dr. Lukman menekankan bahwa salah satu pelajaran penting dari kuliah umum ini adalah perlunya keberpihakan yang lebih kuat kepada petani dan nelayan, karena mereka menanggung risiko besar tetapi sering memperoleh hasil yang relatif kecil. Ia berharap forum seperti ini dapat terus memperkuat sinergi antar-pemangku kepentingan dan membawa manfaat nyata bagi pengembangan kebijakan pangan di Indonesia.
Penyelenggaraan kuliah umum ini menunjukkan komitmen bersama ISEI, Bank Indonesia, UNS, dan Komsah Group untuk mendorong penguatan ketahanan pangan nasional melalui pendekatan akademik, kebijakan, data, dan praktik lapangan. Dengan menghadirkan perspektif dari perguruan tinggi, organisasi profesi, bank sentral, dan lembaga statistik nasional, kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta sekaligus memperkuat kontribusi berbagai pihak dalam mendukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita Pemerintah.
Sertifikat: bit.ly/SertifKuliahUmumISEI
Bahan tayang: bit.ly/BahanTayangKuliahUmumISEIUNS