Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) melalui kegiatan ISEI Industry Matching mendorong pengembangan proyek Waste-to-Energy (WtE) sebagai solusi strategis untuk menjawab tantangan ketahanan energi nasional sekaligus permasalahan pengelolaan limbah yang semakin kompleks di Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan di Purwokerto ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur akademisi, pelaku usaha, pemerintah, serta lembaga keuangan dalam satu forum kolaboratif yang bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular.
Dalam forum tersebut, Kabupaten Banyumas mendapat perhatian khusus sebagai salah satu contoh global best practice dalam pengelolaan sampah berbasis daerah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Model pengelolaan yang dikembangkan di Banyumas dinilai mampu menjawab tantangan pengelolaan limbah secara sistematis sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pemanfaatan sampah sebagai sumber energi dan bahan baku industri. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa solusi energi masa depan tidak selalu harus berskala besar dan terpusat, melainkan dapat dimulai dari inisiatif lokal yang dirancang secara komprehensif, terstruktur, dan berkelanjutan.
Keunggulan utama dari model Banyumas terletak pada penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis tiga layer utama, yaitu dimulai dari tingkat rumah tangga sebagai titik awal pemilahan dan pengurangan sampah, yang menjadi fondasi penting dalam memastikan kualitas bahan baku limbah yang akan diolah lebih lanjut. Selanjutnya, pada level intermediate, dilakukan proses pengumpulan, pemilahan lanjutan, serta pengolahan awal di tingkat komunitas atau kawasan, yang berperan sebagai jembatan antara sumber sampah dan fasilitas pengolahan skala lebih besar. Pada tahap akhir, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berfungsi sebagai pusat pengolahan lanjutan, termasuk konversi sampah menjadi energi listrik melalui berbagai teknologi yang relevan dan adaptif terhadap kondisi lokal.
Pendekatan berlapis ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah, tetapi juga memungkinkan optimalisasi nilai tambah dari limbah yang dihasilkan. Selain menghasilkan energi listrik sebagai bagian dari kontribusi terhadap ketahanan energi nasional, sistem ini juga mampu menciptakan berbagai produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi, seperti bahan bakar alternatif dan bahan baku industri sekitar Banyumas. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan semata, melainkan sebagai sumber daya ekonomi yang produktif dalam kerangka ekonomi sirkular.
Dalam sambutan Dr. Aviliani, S.E., M.Si. selaku Ketua Bidang Kerjasama Dalam Negeri PP ISEI menekankan bahwa Indonesia saat ini dihadapkan pada dua tantangan besar secara bersamaan, yakni meningkatnya kebutuhan energi nasional dan semakin kompleksnya persoalan pengelolaan limbah, khususnya di kawasan perkotaan. Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil dinilai tidak hanya memberikan tekanan terhadap ketahanan energi, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan serta menghambat upaya pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, transformasi menuju sumber energi alternatif berbasis limbah menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda.
Lebih lanjut sebagai Keynote Speaker, Prof. Dr. Muliaman D. Hadad selaku Wakil Dewan Pengawas BPI Danantara menjelaskan bahwa proyek Waste-to-Energy merupakan bagian dari solusi inovatif yang mampu menjawab kedua tantangan tersebut secara simultan. Selain berkontribusi dalam penyediaan energi alternatif, proyek ini juga berperan dalam mengurangi volume sampah, menekan emisi, serta menciptakan peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan produk turunan. Namun demikian, keberhasilan implementasi proyek WtE sangat ditentukan oleh adanya ekosistem yang mendukung, termasuk dari sisi kebijakan, pembiayaan, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan.
Dalam konteks tersebut, kolaborasi multipihak menjadi kunci utama. Peran kelompok swadaya masyarakat sangat penting dalam memastikan keberlanjutan pengelolaan sampah di tingkat akar rumput, terutama dalam proses pemilahan dan perubahan perilaku masyarakat. Di sisi lain, Pemerintah Daerah memiliki peran strategis dalam merumuskan kebijakan, menyediakan infrastruktur, serta menciptakan ekosistem regulasi yang kondusif. Sementara itu, sektor swasta diharapkan dapat berperan lebih aktif melalui investasi, inovasi teknologi, serta pengembangan skema pembiayaan yang kreatif dan berkelanjutan.
Keterlibatan sektor swasta menjadi semakin penting mengingat keterbatasan ruang fiskal pemerintah dalam mendukung proyek-proyek berskala besar, termasuk di sektor energi dan lingkungan. Oleh karena itu, skema kolaboratif seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) serta berbagai bentuk pembiayaan inovatif non-APBN perlu terus didorong guna mempercepat implementasi proyek Waste-to-Energy di berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, ISEI Cabang Purwokerto, dan Universitas Jenderal Soedirman serta melibatkan berbagai cabang ISEI dari sejumlah daerah seperti Surakarta, Yogyakarta, Salatiga, Bogor, Jakarta, dan Banten yang juga menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan sampah perkotaan. Melalui forum ini, para peserta tidak hanya berdiskusi, tetapi juga berbagi pengalaman dan merumuskan langkah-langkah konkret dalam mendorong pengembangan proyek Waste-to-Energy secara lebih luas.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas TPST di Banyumas untuk melihat secara langsung praktik terbaik (best practices) yang telah diterapkan. ISEI berharap bahwa model Banyumas tidak hanya menjadi inspirasi di tingkat nasional, tetapi juga dapat diakui sebagai referensi global dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan energi terbarukan. Dengan penguatan kolaborasi lintas sektor, dukungan kebijakan yang tepat, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan, proyek Waste-to-Energy diyakini dapat menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.